Catatan asal tulis seorang Pekerja IT

[Sastra] - Kumpulan Puisi

Kumpulan Puisi Karya Yusuf Wibisono

Temaram Sore Tasikmadu

“Nyuwun sewu, apakah anda bidadari?”
Ia yang membentang selendangnya dalam
sinar senja,tersenyum menggoda.
“Bukan kangmas. Nama saya Tasikmadu!”

Angin laut datang dari arah cakrawala,
mengusik pucuk daun yang memerah lalu
meniup lembut pada ceruk bebatuan. Dia
yang gemulai itu terus menari, ditingkah
orkestra gamelan yang mengalun dari
dasar pantai selatan.

Di ujung nyiurmu, hatiku tersangkut
erat. Hati pelaut mabuk, yang ingin
terus mencumbumu sepanjang senja.
Jujurlah, wahai jelita. Dewata mana
yang pernah kau pikat hatinya, hingga

Ini Rinduku, Karanggongso

Aku datang kembali, masihkah kau kenali?
Sementara di nadiku telah teraba deru
gemuruh yang menggema. Ah, nafas pantaimu
telah kucium. Juga debur ombakmu yang
berdentang basah, seperti degup jantung
perantau kesepian rindu kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, kukenal jejakmu.
Pohon-pohon yang berjajar sepanjang jalan,
jurang-jurang curam yang tetap saja
mengagumkan. Wajah-wajah penakluk bukit
berbaur dengan legam kulit nelayan yang
terbakar. Ini negeri yang tak perlu
berubah.

Benar, inilah kau yang dulu. Nafas laut,
aroma laut, bunyi laut. Segera aku akan

KEPADA BUNG

Karya: Y. Wibisono

"Wahai pemilik laut, adakah laut yang
lebih laut, yang mahalaut, yang telah
disembunyikan oleh langit dariku?"

Jika kelak kau melaut lagi, ah pastilah
kau akan melaut lagi. Kau selalu merindu
laut, seperti kau merindu aliran darahmu
yang sesekali kau rasa asing. Kau selalu
rindu ikanmu, anginmu, ombakmu, juga
taburan bintang yang tak pernah jemu
berkerling padamu.

Kubayangkan kau bertopi lebar, duduk
mencangkung di buritan perahu. Kau
penuh harap pada kailmu. Seperti mimpi

KERETA TERAKHIR

Karya: Y. Wibisono

Tinggal kau, lalu aku. Dan hati kita segera kosong seperti
stasiun ini. Rel beku, gerbong sunyi. Bahkan menyentuh
lenganmu saja aku tak berani. Adakah wajah selain wajah
kita di sini? Bulan pucat, wajah kita terpantul asing di
ujung peron. Pepohon berjajar dalam bayang remang.

Dingin, bisikmu. Aku mendengarnya seperti lagu lirih
menembus lembut gendangku. Merayap seperti kabut di
kepalaku, kabut yang dingin. Musim tak selalu ramah.
Entah mana yang lebih menakutkan. Ketakmampuanku
melukis garis malam atau aku yang meradang membaca
matamu?

MERINDU RAMADHAN

Karya: Y. Wibisono

Ramadhan mendatangiku seperti seseorang
yang muncul dari masa kecil. Membawa
cerita tentang petasan dan meriam bumbung.
Juga sepotong kisah ketika malam-malam
serombongan kanak berkeliling kampung,
memukuli bambu, membanguni petani yang
lelap dalam mimpi tentang panen semu
dan musim yang melambai pergi.

Ramadhan mengunjungiku. Ia datang, seperti
seorang utusan dari negeri kubur. Berkisah
tentang jiwa-jiwa yang meluruh, menggumuli
malam dengan zikir-zikir panjang, dengan
tasbih yang tiap butirnya adalah airmata

PERNIKAHAN

Karya: Y. Wibisono

Lalu kau sentuh kaki perempuan
itu, kau letakkan kepalamu di
pangkuannya. Kau rasakan,
betapa pipimu dipenuhi kehangatan
kasih yang selalu kau damba
sejak belia. Dengan pelan,
kau ucap: "Ibu, sudah
bolehkah aku menikah?"

Perempuan itu tersenyum. Ia
menyentuh rambutmu, lalu
menelusuri dari pangkal
sampai ujung. Berkali-kali.
Ah, kau ingin itu abadi.
Jemari ibu yang menyematkan
sejuta cinta.

Pernihakan itu, anakku:
Adalah ketika matahari dan
rembulan saling bertukar senyum.
Adalah ketika cinta tak lagi
cukup diucapkan.

GADIS YANG MENULIS PUISI

Karya: Y. Wibisono

Gadis yang berdiri di
simpang usia itu, sangat
ingin membenci waktu.
Baginya, waktu hanya seperti
angin, sahabatnya yang lain.
Tak pernah benar-benar di
sisinya, terus mengalir dan
hanya menyisakan peristiwa-
peristiwa yang harus dikenang.

Ketika ia akhirnya sampai
di simpang ke-19, ia berkata
pada masa remajanya: "Maukah
kau untuk terus bersamaku?"

Masa remaja itu cukup bijak.
Ia sudah cukup banyak bertemu
dengan gadis-gadis yang selalu
menangisi perpisahan.

"Kita tak pernah berpisah, wahai
bunga yang berseri. Aku akan ada

EGA

Karya: Y. Wibisono

Dengan seolah bersungguh, pria
itu berbisik kepadamu:
"Telah aku taruh sepotong sajak,
di salah satu sudut meja. Pada
bagian yang paling rahasia. Adakah
kau temukan?"

Kau boleh tersipu, tapi tak perlu
takut. Ia hanya pria, Ga. Seorang
pria, yang bersenandung tentang
hasrat purba.

Ia membayangkan, dalam kilau cahaya,
dan alun melodi bossas, menulis puisi
di atas kulit tubuhmu.

Tak usah malu untuk tertawa. Kau
bayangkan, seorang pria akan
mengaduh terjengkang, tergelincir
kulit betismu.

Adakah di hatimu banyak warna? Seperti

LELAKI DAN REMBULAN [3]

Karya: Y. Wibisono

Lelaki yang tersungkur bersimbah darah
itu mengaku telah mencabik wajah dan
hampir seluruh tubuhnya. Ia telah
bersalah dan memohon kekasihnya
untuk menghukum. Ia telah berselingkuh
dengan rembulan. Kekasihnya tak memaafkan,
tak menghukum, dan hanya memberi pilihan
:dirinya atau rembulan.

Lelaki itu menghukum diri atas
kesalahannya, tapi untuk pilihan itu
ia putuskan untuk melewati seluruh
malamnya bersama rembulan.

Samarinda, 9 Agustus 2006

LELAKI DAN REMBULAN [1]

Karya: Y. Wibisono

Lelaki itu sangat ingin memanah
rembulan. Tepat di tengahnya.
Darah yang memancar ia harapkan
akan membuat seluruh malam
berwarna merah.

Ia tak suka malam yang pucat!

Karena bidikannya selalu meleset,
dan setelah bertimbang segala
sesuatunya, maka malam itu
ia putuskan untuk memanah
jantungnya sendiri.

Samarinda, 8 Agustus 2006

Walau kalah populer dengan pesaing lain, semisal DotNet dari Microsoft, tapi PB sejujurnya adalah tool yang memukau dan pantas jadi pilihan developer. PB adalah the best RAD (Rapid Application Development) dan the real OOP (Object Oriented Programming). Mau tahu lebih banyak? Gabung saja di http://groups.yahoo.com/group/indopb

Darah petarung sejati telah ada di tubuhnya sejak lahir. Ia tak perlu guru untuk menguasai teknik bertarung yang baik. Sebab, ia memang ditakdirkan untuk hidup sebagai petarung. Anda ingin kenal lebih jauh? Kunjungi http://ayam-bangkok.blogspot.com

Jika anda alumni SMAN 1 Trenggalek, jangan lewatkan kesempatan untuk berkumpul kembali dengan kawan-kawan lama anda di http://groups.yahoo.com/group/smanesa