Catatan Asal Tulis

[Sastra] - Kumpulan Puisi

Kumpulan Puisi Karya Yusuf Wibisono

19 SEPTEMBER

Kau tak pernah menulis puisi untukku.
Mungkin tak perlu. Sebab kasih sayangmu
lebih indah dari sajak cinta.
Tidur malammu yang penuh jaga, telah menjelma
lagu malam yang mendayu. Hati yang lapang
pada semua khilaf, serupa hikayat tentang
telaga jernih di hati perempuan. Airmata yang
sesekali menetes di pipi, seperti kristal
berkilauan dalam lukisan embun pagi.
Lalu, puisi apalagi yang kuperlukan?

Hari ini, 12 tahun yang lalu, kugenggam
tanganmu erat.
"Kini, kau nakhodaku", bisikmu ikhlas.
Aku yang gemetar, membawamu ke atas bahtera.

GERHANA

Ia akan meminangmu saat gerhana.
Ketika kegelapan dan cahaya bersatu
dalam wajah malam. Gaunmu meremang
merah, terajut dari percik sinar bulan.
Lelaki dengan cinta merah, lekas
melayangkanmu ke peluk purnama yang
terkuyup, purnama yang tertangkup.
Dalam takzimnya, disematkannya cincin
yang dipuja dari embun malam di jari
lembut perempuan yang tersipu.
Ia Kamajaya, menggeletarkan rindunya
pada Dewi Ratih. Kelak rahim suburmu
akan melahirkan anak-anak malam.
Yang berlompatan riang pada keremangan
saat bayang matahari merengkuh rembulan.

Smd, Juni 2011

IBUNDA

yang melihat dengan mata batin
yang mendengar dengan mata hati
yang kasihnya bertabur seperti bintang
yang lewat setiap helai rambutnya
tercurah doa indah untuk anak cucu

dalam 84 tahun jalanmu, ibunda
pernahkah kau mengeluh?

21 April

Maaf, saya terlambat lahir. Tidak
sempat bertemu, hanya mengenal
dari buku, lagu, serta cerita guru.
Tapi, masih boleh berkenalan kan, ibu?

Ibu yang mulia, berbahagialah. Sebab
selalu ada satu hari, ketika semua orang
menjelma dirimu. Kartini besar, kartini sedang,
kartini kecil. Semua bersanggul dan berkebaya,
dengan langkah kemayu.

Kini,
Banyak perempuan telah lebih berkuasa dari lelaki
Banyak perempuan telah lebih kuat dari lelaki
Banyak perempuan telah lebih galak dari lelaki
Banyak istri telah mampu menghidupi suami

Mereka, ‘kartini-kartini’ itu, menyukaimu.

Sajak Untuk Pejuang Yang Terlupakan

Lama tak menulis, khususnya di sini. Semua tulisan berkumpul di kepala, dan hanya berputar-putar di situ, seperti janin yang tak segera ingin lahir.
Namun menyaksikan di layar kaca, dua janda pejuang yang sudah renta meneteskan airmata, tiba-tiba tergambar suasana masa lampau. Lebih dari tigapuluh tahun lalu, ketika almarhum ayah mengajak saya yang masih SD mengikuti reuni Yonif Gelatik, sebuah kumpulan para mantan pejuang. Jika kawan-kawan almarhum ayah ada yang masih hidup, entah bagaimana kondisinya sekarang.

Temaram Sore Tasikmadu

“Nyuwun sewu, apakah anda bidadari?”
Ia yang membentang selendangnya dalam
sinar senja,tersenyum menggoda.
“Bukan kangmas. Nama saya Tasikmadu!”

Angin laut datang dari arah cakrawala,
mengusik pucuk daun yang memerah lalu
meniup lembut pada ceruk bebatuan. Dia
yang gemulai itu terus menari, ditingkah
orkestra gamelan yang mengalun dari
dasar pantai selatan.

Di ujung nyiurmu, hatiku tersangkut
erat. Hati pelaut mabuk, yang ingin
terus mencumbumu sepanjang senja.
Jujurlah, wahai jelita. Dewata mana
yang pernah kau pikat hatinya, hingga

Ini Rinduku, Karanggongso

Aku datang kembali, masihkah kau kenali?
Sementara di nadiku telah teraba deru
gemuruh yang menggema. Ah, nafas pantaimu
telah kucium. Juga debur ombakmu yang
berdentang basah, seperti degup jantung
perantau kesepian rindu kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, kukenal jejakmu.
Pohon-pohon yang berjajar sepanjang jalan,
jurang-jurang curam yang tetap saja
mengagumkan. Wajah-wajah penakluk bukit
berbaur dengan legam kulit nelayan yang
terbakar. Ini negeri yang tak perlu
berubah.

Benar, inilah kau yang dulu. Nafas laut,
aroma laut, bunyi laut. Segera aku akan

KEPADA BUNG

Karya: Y. Wibisono

"Wahai pemilik laut, adakah laut yang
lebih laut, yang mahalaut, yang telah
disembunyikan oleh langit dariku?"

Jika kelak kau melaut lagi, ah pastilah
kau akan melaut lagi. Kau selalu merindu
laut, seperti kau merindu aliran darahmu
yang sesekali kau rasa asing. Kau selalu
rindu ikanmu, anginmu, ombakmu, juga
taburan bintang yang tak pernah jemu
berkerling padamu.

Kubayangkan kau bertopi lebar, duduk
mencangkung di buritan perahu. Kau
penuh harap pada kailmu. Seperti mimpi

KERETA TERAKHIR

Karya: Y. Wibisono

Tinggal kau, lalu aku. Dan hati kita segera kosong seperti
stasiun ini. Rel beku, gerbong sunyi. Bahkan menyentuh
lenganmu saja aku tak berani. Adakah wajah selain wajah
kita di sini? Bulan pucat, wajah kita terpantul asing di
ujung peron. Pepohon berjajar dalam bayang remang.

Dingin, bisikmu. Aku mendengarnya seperti lagu lirih
menembus lembut gendangku. Merayap seperti kabut di
kepalaku, kabut yang dingin. Musim tak selalu ramah.
Entah mana yang lebih menakutkan. Ketakmampuanku
melukis garis malam atau aku yang meradang membaca
matamu?

MERINDU RAMADHAN

Karya: Y. Wibisono

Ramadhan mendatangiku seperti seseorang
yang muncul dari masa kecil. Membawa
cerita tentang petasan dan meriam bumbung.
Juga sepotong kisah ketika malam-malam
serombongan kanak berkeliling kampung,
memukuli bambu, membanguni petani yang
lelap dalam mimpi tentang panen semu
dan musim yang melambai pergi.

Ramadhan mengunjungiku. Ia datang, seperti
seorang utusan dari negeri kubur. Berkisah
tentang jiwa-jiwa yang meluruh, menggumuli
malam dengan zikir-zikir panjang, dengan
tasbih yang tiap butirnya adalah airmata

Walau kalah populer dengan pesaing lain, semisal DotNet dari Microsoft, tapi PB sejujurnya adalah tool yang memukau dan pantas jadi pilihan developer. PB adalah the best RAD (Rapid Application Development) dan the real OOP (Object Oriented Programming). Mau tahu lebih banyak? Gabung saja di http://groups.yahoo.com/group/indopb

Darah petarung sejati telah ada di tubuhnya sejak lahir. Ia tak perlu guru untuk menguasai teknik bertarung yang baik. Sebab, ia memang ditakdirkan untuk hidup sebagai petarung. Anda ingin kenal lebih jauh? Kunjungi http://ayam-bangkok.blogspot.com

Jika anda alumni SMAN 1 Trenggalek, jangan lewatkan kesempatan untuk berkumpul kembali dengan kawan-kawan lama anda di http://groups.yahoo.com/group/smanesa