Menunggu Gerhana di Pantai Lamaru
- Artikel:
Karena tidak merayakan Imlek, saya dan keluarga memilih untuk melewati hari libur ini dengan pergi ke pantai. Pilihannya hanya tiga: Samboja, Lamaru, atau ke Manggar. Kamipun sepakat ke Lamaru, sekalian mampir ke Teritip, tempat penangkaran buaya. Kebetulan pula hari itu (26 Januari 2009) daerah saya termasuk yang dapat menyaksikan gerhana matahari cincin. Keputusanpun bulat, kami akan menunggu gerhana di Lamaru.
Pantai Lamaru berjarak kurang lebih 120 km dari Samarinda. Jalan yang dilewati hampir sama dengan ke pantai Samboja. Hanya saja ketika sampai pada pertigaan Samboja, belok kanan ke arah Balikpapan. Sedangkan bila ke pantai Samboja harus ambil sebelah kiri yang menuju ke Handil dan Sanga-Sanga.
Jalan menuju ke Lamaru dari arah Samboja lumayan bagus, walau tidak selebar jalan poros Samarinda-balikpapan. Tapi tetap harus hati-hati karena beberapa tikungan cukup tajam. Sepanjang jalan, terlihat beberapa rumah penduduk berselang-seling dengan hutan dan kebun. Beberapa truk besar melintas. Wilayah ini adalah daerah perbatasan Kabupaten Kutai Kertanegara dengan Kotamadya balikpapan.
Awalnya kami ingin mampir dulu ke Teritip karena lebih dulu melewati. Namun ternyata terlewat. Daripada susah memutar kendaraan, akhirnya kami putuskan untuk ke pantai Lamaru terlebih dulu.
Gerbang masuk ke pantai Lamaru seharusnya terlihat mudah, walau agak kecil, tapi papan petunjuk yang ada tertutup oleh poster-poster caleg yang bertumpuk di sisi kanan dan kiri gerbang. Kamipun masuk, harga tiketnya sangat murah. Sayangnya begitu meluncur di jalan masuk ke pantai, jalanan becek dan bergelombang. Padahal jalan cukup lebar dan lurus langsung ke bibir pantai. Sangat disayangkan. Tentunya jika jalan ini dibangun bagus akan lebih membuat nyaman pengunjung.
Dari jauh sudah terlihat ramainya pengunjung. Mobil berjajar dan sepeda motor tersebar di parkiran. Sepanjang tepi pantai tampak penjual makanan berderet dengan berbagai menu yang dipasang di spanduk di muka warung. Segera setelah memarkir kendaraan, kami berhambur ke pantai. Pengunjung sangat ramai, barangkali karena hari ini libur.
Suasana agak gerimis dan berkabut. Nampaknya rencana menunggu gerhana di Lamaru bakalan gagal. Langit gelap, dan gerimispun makin lebat. Namun itu sama sekali tidak menyurutkan orang, utamanya anak-anak kecil, untuk tetap berlarian di sepanjang pantai.
Berbeda dengan Samboja, di Lamaru cukup banyak orang yang menyewakan jasa permainan di pantai. Mulai dari ban, bola pantai, sampai perahu dan banana boat. Ombak relatif kecil. Sangat jauh jika dibandingkan dengan pantai di pesisir selatan Jawa. Namun kengerian akan beberapa bencana membuat saya tetap melarang anak-anak untuk bermain agak ke tengah.
Pantai Lamaru cukup luas, nampaknya lebih luas dari pantai Samboja. Sepanjang tepi pantai banyak pohon pinus dan nyiur. Area pasir pantai lumayan lebar, sehingga pengunjung dapat berjalan cukup jauh ke arah laut. Di tengah gerimis saya mencoba mengambil beberapa gambar. Lamaru memang cocok untuk bermain. Untuk keindahan, pantai ini menurut saya biasa. Hutan kecil, pasir, dan laut. Tak ada karang dan pulau kecil. Namun ombak yang tenang dan hamparan pasir yang luas, sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga.
Menjelang siang, kamipun mulai kelaparan. Setelah sekilas melihat-lihat menu yang tertulis pada spanduk tiap warung, kamipun menuju ke salah satu warung yang tidak jauh dari posisi kami. Dinginnya udara karena gerimis serta rasa capek membuat kami menikmati makanan dengan sedikit rakus.
Karena hari tak juga terang, saya mengajak keluarga untuk bersiap-siap pergi ke Teritip. Tapi anak-anak protes, mereka belum puas bermain pasir. Saya ikuti mereka, sambil berharap bahwa gerimis reda dan mendungpun hilang agar dapat melihat gerhana. Namun harapan itu sia-sia. Gerimis tetap turun dan awan tetap gelap bahkan sampai ketika kami beranjak meninggalkan Lamaru. Tanpa sempat menyaksikan gerhana. []
Sebagian orang mengira, bahwa pekerjaan membuat program itu hanyalah hal teknis; logika dan matematika, dengan menghapal sejumlah instruksi. Orang lupa bahwa ada pekerjaan otak kanan di sana. Jika penyair perlu kontemplasi demi memburu tetes demi tetes inspirasi, demikian pula yang dilakukan para programmer.
Ini rindu tentang sebuah dangau, atau gubug kecil di tepi kali. Lalu beberapa orang akan datang, dengan pena dan kertas. Sesekali akan ada obrolan gayeng, yang sekejap mungkin berganti diam. Diam yang padat, ketika penulis mengobrol dengan karyanya. Dan demikianlah, komunitas kecil itu lalu kami namakan JORAN.
Hanya berisi hal-hal remeh. Ini bukan sebuah ruang perpustakaan mewah, atau showroom karya-karya berharga. Sebagian berupa lembaran kertas setengah jadi, beberapa hanyalah catatan asal tulis. Walaupun, tetap saja ada harapan bahwa satu waktu seseorang akan merasa bahwa catatan-catatan remeh ini berguna.
Recent comments
50 weeks 1 day ago
50 weeks 2 days ago
50 weeks 5 days ago
51 weeks 2 days ago
51 weeks 3 days ago
51 weeks 3 days ago
51 weeks 3 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago