MERINDU RAMADHAN
- Artikel:
Karya: Y. Wibisono
Ramadhan mendatangiku seperti seseorang
yang muncul dari masa kecil. Membawa
cerita tentang petasan dan meriam bumbung.
Juga sepotong kisah ketika malam-malam
serombongan kanak berkeliling kampung,
memukuli bambu, membanguni petani yang
lelap dalam mimpi tentang panen semu
dan musim yang melambai pergi.
Ramadhan mengunjungiku. Ia datang, seperti
seorang utusan dari negeri kubur. Berkisah
tentang jiwa-jiwa yang meluruh, menggumuli
malam dengan zikir-zikir panjang, dengan
tasbih yang tiap butirnya adalah airmata
yang membatu. Membawakanku cermin, yang
padanya tergambar segala coreng legam
jejak langkahku.
Ramadhan menyapaku, memegang pundakku.
Ia sungguh membuat tersipu saat berkata
bahwa menahan lapar adalah hal paling
ringan dari seribu ujian yang seharusnya
ditanggung. Sudahkah dapat ditahan mata
yang mengerjap ketika sesosok tubuh sedang
menghidangkan hasrat purbawi? Sudahkah
lidah ditahan untuk tak mengumpat barang
sehari? Sudahkan telinga dapat dikekang
untuk tak larut dalam gunjingan tanpa
arti?
Ramadhan adalah sahabat siang, adalah
sahabat malam. Ia mentertawakanku yang
menyambut azan magrib dengan kegairahan
orang kelaparan. Kepadaku ia nyanyikan
kidung tentang rintihan orang-orang
yang seluruh isi hidupnya adalah lapar.
Ramadhan mentertawakanku yang bersantap
sahur seperti reptil yang akan seminggu
tak makan. Bahwa masihkah bernama ujian
ketika tak berusaha menjalani dengan apa
adanya?
Sesingkat musim yang pendek, aku tahu
Ramadhan akan meninggalkanku pula. Di
ujung ladang, ketika orang-orang bersuka
cita, menabuh genderang hari kemenangan.
Ia yang suci tetap menyisakan misteri,
mengapa tetap pergi dengan mata berlinang?
Sebab selekas perginya, orang-orang akan
lekas juga lena. Bukankah sudah tak lagi
Ramadhan, bukankah pada masanya ia akan
tetap mengunjungi kita lagi?
Ramadhan yang tabah, Ramadhan yang setia.
Tapi, akankah ia masih setia datang
kepada seorang beruban, berlengan keriput
yang menggigil dalam himpit noda lumpur
dunia? Ia yang tak menemui, ataukah kita
yang tak lagi menemui, apalah bedanya.
Akan ada masa, ketika kita dan Ramadhan
tak lagi dapat saling bersua!
Samarinda, 11 Oktober '06
Sebagian orang mengira, bahwa pekerjaan membuat program itu hanyalah hal teknis; logika dan matematika, dengan menghapal sejumlah instruksi. Orang lupa bahwa ada pekerjaan otak kanan di sana. Jika penyair perlu kontemplasi demi memburu tetes demi tetes inspirasi, demikian pula yang dilakukan para programmer.
Ini rindu tentang sebuah dangau, atau gubug kecil di tepi kali. Lalu beberapa orang akan datang, dengan pena dan kertas. Sesekali akan ada obrolan gayeng, yang sekejap mungkin berganti diam. Diam yang padat, ketika penulis mengobrol dengan karyanya. Dan demikianlah, komunitas kecil itu lalu kami namakan JORAN.
Hanya berisi hal-hal remeh. Ini bukan sebuah ruang perpustakaan mewah, atau showroom karya-karya berharga. Sebagian berupa lembaran kertas setengah jadi, beberapa hanyalah catatan asal tulis. Walaupun, tetap saja ada harapan bahwa satu waktu seseorang akan merasa bahwa catatan-catatan remeh ini berguna.
Recent comments
3 weeks 4 days ago
20 weeks 4 days ago
20 weeks 4 days ago
24 weeks 6 days ago
25 weeks 6 days ago
27 weeks 6 days ago
27 weeks 6 days ago
28 weeks 2 days ago
34 weeks 4 days ago
37 weeks 3 hours ago