SEBUAH RINDU
- Artikel:
Karya: Y. Wibisono
[untuk gadis T yang akan berhari jadi]
angin dan kabut tiba-tiba menjelmakan bayangmu di kaca jendela
dengan gaun yang meniupkan seribu kenangan
aku menggigil, melayang dan lesap
di sudut pagi yang membekukan tulang belulang
di belasan bukit yang terlewat, ngarai-ngarai yang terkubur
dengan inspirasi yang dihamburkan seperti daun musim gugur
hanyalah sketsa buram dari lukisan yang tak pernah jadi
aku lelaki, melarikan mimpi dari perjalanan kita yang tak jadi dimulai
sebuah negeri tiba-tiba saja memberi kehidupan
dan demikianlah lagu itu
mahakam yang bernyanyi, mahakam yang merindui
bersama kapal yang lewat, dengarlah kolaburasi kami
masih saja yang tercipta adalah sajak sunyi
dan sungai yang mengalirkan kepiluan
:tetap saja aku mengingatmu
seperti pesta suku terasing
aku menarikan rindu dalam gairah terliar
dan bertakzim pada lukisan-lukisan batu di situs bisu
yang dilempar dari sisa pertemuan kita
aku berdansa bersama api sunyi dan bara yang memerahkan sepi
angin, serangga, hutan dan semua yang menunggu mentari
kami memekik seperti lolong hyena yang berlari
mengejar setiap mimpi yang terlewati
angin dan kabut tiba-tiba menjelmakan bayangmu di kaca jendela
dengan gaun yang meniupkan seribu kenangan
aku tercabik ketika sebuah malam menikam anganku
dengan pisau yang disimpan dari masa lalu
kita berdua, dalam kereta yang terpisah di tikungan takdir
dengan tangis dan tawa yang kita larungkan di pantai selatan
bersama tatapmu yang tetap membius lamunan
lalu janji itu pun seperti jeruji
yang dihampar dalam penjara waktu
dan lenyap menjelma sepotong lirik
yang dibawa camar ke lautmu
:tetap saja aku merindumu
Samarinda, 16 Mei 2004
Sebagian orang mengira, bahwa pekerjaan membuat program itu hanyalah hal teknis; logika dan matematika, dengan menghapal sejumlah instruksi. Orang lupa bahwa ada pekerjaan otak kanan di sana. Jika penyair perlu kontemplasi demi memburu tetes demi tetes inspirasi, demikian pula yang dilakukan para programmer.
Ini rindu tentang sebuah dangau, atau gubug kecil di tepi kali. Lalu beberapa orang akan datang, dengan pena dan kertas. Sesekali akan ada obrolan gayeng, yang sekejap mungkin berganti diam. Diam yang padat, ketika penulis mengobrol dengan karyanya. Dan demikianlah, komunitas kecil itu lalu kami namakan JORAN.
Hanya berisi hal-hal remeh. Ini bukan sebuah ruang perpustakaan mewah, atau showroom karya-karya berharga. Sebagian berupa lembaran kertas setengah jadi, beberapa hanyalah catatan asal tulis. Walaupun, tetap saja ada harapan bahwa satu waktu seseorang akan merasa bahwa catatan-catatan remeh ini berguna.
Recent comments
3 weeks 4 days ago
20 weeks 4 days ago
20 weeks 4 days ago
24 weeks 6 days ago
25 weeks 6 days ago
27 weeks 6 days ago
27 weeks 6 days ago
28 weeks 2 days ago
34 weeks 4 days ago
37 weeks 3 hours ago